Jangan Mewarisi Abu Sumpah Pemuda, Warisilah Api Sumpah Pemuda

Kopertis Wilayah X peringati Hari Sumpah Pemuda ke-89 dengan melaksanakan upacara bendera yang diikuti tenaga kependidikan dan dosen PNS dpk. Koordinator Kopertis Wilayah X bertindak sebagai Pembina upacara.

Senin pagi, di halaman kantor Kopertis Wilayah X, seluruh jajaran pimpinan, tenaga kependidikan, dosen PNS dpk ikut melaksanakan upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89, (30/10).

Koordinator Kopertis Wilayah X, Prof. Dr. Herri, SE, MBA bertindak sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, Koordinator membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

“Delapan puluh sembilan tahun yang lalu, 71 pemuda dari seluruh penjuru tanah air berkumpul di sebuah gedung di Jalan Kramat Jaya, Kwitang Jakarta. Mereka mengikrarkan diri sebagai satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Bahasa Indonesia. Sungguh sebuah ikrar yang sangat monumental yang 17 tahun kemudian melahirkan proklamasi kemerdekaan Indonesia,” Kata Koordinator mengawali amanatnya.

Lebih lanjut, dalam amanat tersebut Menpora mengatakan meskipun memiliki latar belakang yang berbeda-beda, namun fakta sejarah menunjukkan bahwa sekat dan batasan tersebut tidak menjadi penghalang untuk bersatu demi cita-cita Indonesia. Inilah yang disebut dengan “Berani Bersatu”.

Kita tentu patut bersyukur atas sumbangsih para pemuda Indonesia yang sudah melahirkan Sumpah Pemuda. Sudah seharusnya kita meneladani langkah-langkah dan keberanian mereka hingga menorehkan sejarah emas untuk bangsa Indonesia.

Anehnya, dengan berbagai kemudahan yang kita miliki sekarang, kita justru lebih sering berselisih paham, terpecah belah, saling mengutuk satu dengan yang lain, dan menebar fitnah serta kebencian.

Presiden RIyang pertama, Bung Karno pernah menyampaikan : “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda,tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,”

Hentikan segala bentuk perdebatan yang mengarah pada perpecahan bangsa. Kita seharusnya malu dengan pemuda 1928 dan Bung Karno. Sudah saatnya kita melangkah ke tujuan yang lebih besar, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sumber: Kopertis X

Dibaca : 17 x. Diposting Tanggal : 02-November-2017